Sejarah Singkat Tentang Selatpanjang
Sejarah Kota Selatpanjang
Ramai interaksi perdagangan didaerah pesisir Riau inilah menyebabkan pemerintahan Hindia Belanda ikut ambil dalam bagian penentuan nama negeri ini. Sejarah tercatat pada masa Sultan Siak yang ke 11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Pada tahun 1880, pemerintahan di Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi dikuasai oleh J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi yang bergelar Tuan Temenggung Marhum Buntut
(Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak). Pada masa
pemerintahannya di bandar ini terjadilah polemik dengan pihak
Pemerintahan Kolonial Belanda yaitu Konteliur Van Huis mengenai
perubahan nama negeri ini, dalam sepihak pemerintahan kolonial Belanda
mengubah daerah ini menjadi Selatpanjang, namun tidak disetujui oleh
J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi selaku pemangku daerah.
Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama pada tanggal 4 September 1899, Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi berubah menjadi Negeri Makmur Bandar Tebingtinggi Selatpanjang.J.M.
Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi mangkat pada tahun 1908. Seiring
waktu masa diawal Pemerintahan Republik Indonesia, kota selatpanjang dan
sekitarnya ini merupakan Wilayah Kewedanan di bawah Kabupaten Bengkalis
yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Tebingtinggi.Pada
tanggal 19 Desember 2008,daerah selatpanjang dan sekitarnya ini berubah menjadi Kabupaten Kepulauan Meranti memekarkan diri dari Kabupaten bengkalis dengan ibukota Selatpanjang.
Ramai interaksi perdagangan didaerah pesisir Riau inilah menyebabkan pemerintahan Hindia Belanda ikut ambil dalam bagian penentuan nama negeri ini. Sejarah tercatat pada masa Sultan Siak yang ke 11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Pada tahun 1880, pemerintahan di Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi dikuasai oleh J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi yang bergelar Tuan Temenggung Marhum Buntut (Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak). Pada masa pemerintahannya di bandar ini terjadilah polemik dengan pihak Pemerintahan Kolonial Belanda yaitu Konteliur Van Huis mengenai perubahan nama negeri ini, dalam sepihak pemerintahan kolonial Belanda mengubah daerah ini menjadi Selatpanjang, namun tidak disetujui oleh J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi selaku pemangku daerah. Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama pada tanggal 4 September 1899, Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi berubah menjadi Negeri Makmur Bandar Tebingtinggi Selatpanjang.J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi mangkat pada tahun 1908. Seiring waktu masa diawal Pemerintahan Republik Indonesia, kota selatpanjang dan sekitarnya ini merupakan Wilayah Kewedanan di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Tebingtinggi.Pada tanggal 19 Desember 2008,daerah selatpanjang dan sekitarnya ini berubah menjadi Kabupaten Kepulauan Meranti memekarkan diri dari Kabupaten bengkalis dengan ibukota Selatpanjang.
Kota Selatpanjang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan Meranti, duhulu merupakan salah satu bandar (kota) yang paling sibuk dan terkenal perniagaan di dalam kesultanan Siak.[1] Bandar ini sejak dahulu telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa,
karena peran antar merekalah terbentuk erat dalam keharmonisan kegiatan
kultural maupun perdagangan. Semua ini tidak terlepas ketoleransian
antar persaudaraan. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan
dan lalu lintas barang barang maupun manusia dari China ke nusantara dan sebaliknya.
Daerah Selatpanjang dan sekitarnya sebelumnya merupakan wilayah
kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang merupakan salah satu
kesultanan terbesar di Riau saat itu.Pada masa pemerintahan Sultan Siak
VII yaitu Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (yang bertahta tahun 1784–1810), biasa disapa Sultan Syarif Ali, memberi titah kepada Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha
untuk mendirikan Negeri atau Bandar di Pulau Tebing Tinggi. Selain
tertarik pada pulau itu juga karena Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul
Jalil Syaifuddin Baalawi sendiri pernah singgah ke daerah itu, tujuan
utama Sultan Syarif Ali ingin himpun kekuatan melawan kerajaan Sambas (Kalimantan Barat)
yang terindikasi bersekutu dengan Belanda yang telah khianati
perjanjian setia dan mencuri mahkota Kerajaan Siak. Negeri atau Bandar
ini nantinya sebagai ujung tombak pertahanan ketiga setelah Bukit Batu dan Merbau'' untuk menghadang penjajah dan lanun.
Maka bergeraklah armadanya dibawah pimpinan Panglima Besar Muda
Tengku Bagus Saiyid Thoha pada awal Muharram tahun 1805 Masehi diiringi
beberapa pembesar Kerajaan Siak, ratusan laskar dan hulu balang menuju
Pulau Tebing Tinggi. Mereka tiba di tebing Hutan Alai(sekarang
Ibukota Kecamatan Tebingtinggi Barat). Panglima itu segera menghujam
kerisnya memberi salam pada Tanah Alai.Tanah Alai tak menjawab, Ia
meraup tanah sekepal, terasa panas. Ia melepasnya, “Menurut sepanjang
pengetahuan den, tanah Alai ini tidak baik dibuat sebuah negeri karena
tanah Hutan Alai adalah tanah jantan, Baru bisa berkembang menjadi
sebuah negeri dalam masa waktu yang lama,” kata sang panglima dihadapan pembesar Siak dan anak buahnya.
Panglima bertolak menyusuri pantai pulau ini. Lalu, terlihat sebuah tebing yang tinggi. “Inilah gerangan yang dimaksud oleh ayahanda Sultan Syarif Ali,” pikirnya. Armada merapat ke Tebing Tanah Tinggi bertepatan tanggal 07 April 1805 Masehi. Di usia masih 25 tahun itu, dengan mengucap bismillah Panglima melejit ke darat yang tinggi sambil memberi salam. “Alha-mdulillah tanah tinggi ini menjawab salam den,” katanya. Tanah diraupnya, terasa sejuk dan nyaman. Ia tancapkan keris di atas tanah (lokasinya sekarang kira-kira dekat komplek kantor Bea Cukai Selatpanjang). Sambil berkata, “Dengarkanlah
oleh kamu sekalian di tanah Hutan Tebing Tinggi inilah yang amat baik
didirikan sebuah negeri. Negeri ini nantinya akan berkembang aman dan
makmur apabila pemimpin dan penduduknya adil dan bekerja keras serta
menaati hukum-hukum Allah.”
Panglima itu berdiri tegak dihadapan semua pembesar kerajaan, laskar, hulu balang, dan bathin-bathin sekitar pulau. “Den
bernama Tengku Bagus Saiyid Thoha Panglima Besar Muda Siak Sri
Indrapura. Keris den ini bernama Petir Terbuka Tabir Alam Negeri. Yang
den sosok ini den namakan Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi.”itulah nama asal muasal kota selatpanjang.
Setelah menebas hutan, membuka wilayah kekuasaan, berdirilah istana
panglima besar itu. Pada 1810 Masehi Sultan Syarif Ali mengangkat
Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha itu sebagai penguasa
pulau. Kala itu, sebelah timur negeri berbatasan dengan Sungai Suir dan
sebelah barat berbatasan dengan Sungai Perumbi,seiring perkembangan
waktu bandar ini semakin ramai dan bertumbuh sebagai salah satu bandar
perniagaan di kesultanan siak.
Ramai interaksi perdagangan didaerah pesisir Riau inilah menyebabkan pemerintahan Hindia Belanda ikut ambil dalam bagian penentuan nama negeri ini. Sejarah tercatat pada masa Sultan Siak yang ke 11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Pada tahun 1880, pemerintahan di Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi dikuasai oleh J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi yang bergelar Tuan Temenggung Marhum Buntut
(Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak). Pada masa
pemerintahannya di bandar ini terjadilah polemik dengan pihak
Pemerintahan Kolonial Belanda yaitu Konteliur Van Huis mengenai
perubahan nama negeri ini, dalam sepihak pemerintahan kolonial Belanda
mengubah daerah ini menjadi Selatpanjang, namun tidak disetujui oleh
J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi selaku pemangku daerah.
Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama pada tanggal 4 September 1899, Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi berubah menjadi Negeri Makmur Bandar Tebingtinggi Selatpanjang.J.M.
Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi mangkat pada tahun 1908. Seiring
waktu masa diawal Pemerintahan Republik Indonesia, kota selatpanjang dan
sekitarnya ini merupakan Wilayah Kewedanan di bawah Kabupaten Bengkalis
yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Tebingtinggi.Pada
tanggal 19 Desember 2008,daerah selatpanjang dan sekitarnya ini berubah menjadi Kabupaten Kepulauan Meranti memekarkan diri dari Kabupaten bengkalis dengan ibukota Selatpanjang.
SEJARAH KOTA
SELATPANJANG KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI
Ainun Syarifatul Alfiah/SR
ASAL MULA KOTA SELATPANJANG
Daerah Selatpanjang dan sekitarnya sebelumnya merupakan wilayah
kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang merupakan salah satu
kesultanan terbesar di Riau saat itu.Pada masa pemerintahan Sultan Siak
VII yaitu Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (
yang bertahta tahun 1784 - 1810 ), biasa disapa Sultan Syarif Ali,
memberi titah kepada Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha untuk
mendirikan Negeri atau Bandar di Pulau Tebing Tinggi. Selain tertarik
pada pulau itu juga karena Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil
Syaifuddin Baalawi sendiri pernah singgah ke daerah itu, tujuan utama
Sultan Syarif Ali ingin himpun kekuatan melawan kerajaan Sambas (
Kalimantan Barat ) yang terindikasi bersekutu dengan Belanda yang telah
khianati perjanjian setia dan mencuri mahkota Kerajaan Siak. Negeri atau
Bandar ini nantinya sebagai ujung tombak pertahanan ketiga setelah
Bukit Batu dan Merbau'' untuk menghadang penjajah dan lanun.
Maka bergeraklah armadanya dibawah pimpinan Panglima Besar Muda Tengku
Bagus Saiyid Thoha pada awal Muharram tahun 1805 Masehi diiringi
beberapa pembesar Kerajaan Siak, ratusan laskar dan hulu balang menuju
Pulau Tebing Tinggi. Mereka tiba di tebing Hutan Alai( sekarang Ibukota
Kecamatan Tebingtinggi Barat ).
Panglima itu segera menghujam kerisnya memberi salam pada Tanah
Alai.Tanah Alai tak menjawab, Ia meraup tanah sekepal, terasa panas. Ia
melepasnya, "Menurut sepanjang pengetahuan den, tanah Alai ini tidak
baik dibuat sebuah negeri karena tanah Hutan Alai adalah tanah jantan,
Baru bisa berkembang menjadi sebuah negeri dalam masa waktu yang lama,"
kata sang panglima dihadapan pembesar Siak dan anak buahnya.
Panglima bertolak menyusuri pantai pulau ini. Lalu, terlihat sebuah
tebing yang tinggi. "Inilah gerangan yang dimaksud oleh ayahanda Sultan
Syarif Ali," pikirnya. Armada merapat ke Tebing Tanah Tinggi bertepatan
tanggal 07 April 1805 Masehi. Di usia masih 25 tahun itu, dengan
mengucap bismillah Panglima melejit ke darat yang tinggi sambil memberi
salam. "Alha-mdulillah tanah tinggi ini menjawab salam den," katanya.
Tanah diraupnya, terasa sejuk dan nyaman. Ia tancapkan keris di atas
tanah (lokasinya sekarang kira-kira dekat komplek kantor Bea Cukai
Selatpanjang ). Sambil berkata, "Dengarkanlah oleh kamu sekalian di
tanah Hutan Tebing Tinggi inilah yang amat baik didirikan sebuah negeri.
Negeri ini nantinya akan berkembang aman dan makmur apabila pemimpin
dan penduduknya adil dan bekerja keras serta menaati hukum-hukum
Allah."Panglima itu berdiri tegak dihadapan semua pembesar kerajaan,
laskar, hulu balang, dan bathin-bathin sekitar pulau. "Den bernama
Tengku Bagus Saiyid Thoha Panglima Besar Muda Siak Sri Indrapura. Keris
den ini bernama Petir Terbuka Tabir Alam Negeri. Yang den sosok ini den
namakan Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi."itulah nama asal
muasal kota selatpanjang.
Setelah menebas hutan, membuka wilayah kekuasaan, berdirilah istana
panglima besar itu. Pada 1810 Masehi Sultan Syarif Ali mengangkat
Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha itu sebagai penguasa
pulau. Kala itu, sebelah timur negeri berbatasan dengan Sungai Suir dan
sebelah barat berbatasan dengan Sungai Perumbi, seiring perkembangan
waktu bandar ini semakin ramai dan bertumbuh sebagai salah satu bandar
perniagaan di kesultanan siak.
Ramai interaksi perdagangan didaerah pesisir Riau inilah menyebabkan
pemerintahan Hindia Belanda ikut ambil dalam bagian penentuan nama
negeri ini. Sejarah tercatat pada masa Sultan Siak yang ke 11 yaitu
Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Pada tahun
1880, pemerintahan di Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi dikuasai oleh
J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi yang bergelar Tuan Temenggung
Marhum Buntut (Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak).
Pada masa pemerintahannya di bandar ini terjadilah polemik dengan pihak
Pemerintahan Kolonial Belanda yaitu Konteliur Van Huis mengenai
perubahan nama negeri ini, dalam sepihak pemerintahan kolonial Belanda
mengubah daerah ini menjadi Selatpanjang, namun tidak disetujui oleh
J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi selaku pemangku daerah.
Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama pada tanggal 4 September 1899,
Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi berubah menjadi Negeri Makmur Bandar
Tebingtinggi Selatpanjang.J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi
mangkat pada tahun 1908. Seiring waktu masa diawal Pemerintahan Republik
Indonesia, kota selatpanjang dan sekitarnya ini merupakan Wilayah
Kewedanan di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status
menjadi Kecamatan Tebingtinggi. Pada tanggal 19 Desember 2008, daerah
Selatpanjang dan sekitarnya ini berubah menjadi Kabupaten Kepulauan
Meranti memekarkan diri dari Kabupaten bengkalis dengan ibukota
Selatpanjang.[1]
Kota SelatPanjang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan
Meranti, dahulu merupakan salah satu bandar (kota) yang paling sibuk dan
terkenal perniagaan di dalam kesultanan Siak.Bandar ini sejak dahulu
telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa,
karena peran antar merekalah terbentuk erat dalam keharmonisan kegiatan
kultural maupun perdagangan. Semua ini tidak terlepas ketoleransian
antar persaudaraan. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan
dan lalu lintas barang barang maupun manusia dari China ke nusantara dan
sebaliknya.Selatpanjang juga merupakan kota yang menjadi transit
transportasi laut dari Pekanbaru menuju Pulau Batam atau Tanjung Balai
Karimun dan sebaliknya. selatpanjang juga merupakan kota penghasil sagu
yang cukup besar. Kabupaten Kepulauan Meranti adalah salah satu
kabupaten di provinsi Riau, Indonesia, dengan ibu kotanya adalah
Selatpanjang.
Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari Pulau Tebing Tinggi, Pulau
Padang, Pulau Merbau, Pulau Ransang, Pulau Topang, Pulau Manggung, Pulau
Panjang, Pulau Jadi, Pulau Setahun, Pulau Tiga, Pulau Baru, Pulau
Paning, Pulau Dedap,Pulau Berembang, Pulau Burung.Adapun nama Meranti
diambil dari nama gabungan "Pulau Merbau, Pulau Ransang dan Pulau
Tebingtinggi".[2]
Invested $100 in Cryptocurrencies in 2017...You would now have $524,215: https://goo.gl/efW8Ef
Invested $100 in Cryptocurrencies in 2017...You would now have $524,215: https://goo.gl/efW8Ef
SEJARAH KOTA
SELATPANJANG KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI
Ainun Syarifatul Alfiah/SR
ASAL MULA KOTA SELATPANJANG
Daerah Selatpanjang dan sekitarnya sebelumnya merupakan wilayah
kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang merupakan salah satu
kesultanan terbesar di Riau saat itu.Pada masa pemerintahan Sultan Siak
VII yaitu Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (
yang bertahta tahun 1784 - 1810 ), biasa disapa Sultan Syarif Ali,
memberi titah kepada Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha untuk
mendirikan Negeri atau Bandar di Pulau Tebing Tinggi. Selain tertarik
pada pulau itu juga karena Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil
Syaifuddin Baalawi sendiri pernah singgah ke daerah itu, tujuan utama
Sultan Syarif Ali ingin himpun kekuatan melawan kerajaan Sambas (
Kalimantan Barat ) yang terindikasi bersekutu dengan Belanda yang telah
khianati perjanjian setia dan mencuri mahkota Kerajaan Siak. Negeri atau
Bandar ini nantinya sebagai ujung tombak pertahanan ketiga setelah
Bukit Batu dan Merbau'' untuk menghadang penjajah dan lanun.
Maka bergeraklah armadanya dibawah pimpinan Panglima Besar Muda Tengku
Bagus Saiyid Thoha pada awal Muharram tahun 1805 Masehi diiringi
beberapa pembesar Kerajaan Siak, ratusan laskar dan hulu balang menuju
Pulau Tebing Tinggi. Mereka tiba di tebing Hutan Alai( sekarang Ibukota
Kecamatan Tebingtinggi Barat ).
Panglima itu segera menghujam kerisnya memberi salam pada Tanah
Alai.Tanah Alai tak menjawab, Ia meraup tanah sekepal, terasa panas. Ia
melepasnya, "Menurut sepanjang pengetahuan den, tanah Alai ini tidak
baik dibuat sebuah negeri karena tanah Hutan Alai adalah tanah jantan,
Baru bisa berkembang menjadi sebuah negeri dalam masa waktu yang lama,"
kata sang panglima dihadapan pembesar Siak dan anak buahnya.
Panglima bertolak menyusuri pantai pulau ini. Lalu, terlihat sebuah
tebing yang tinggi. "Inilah gerangan yang dimaksud oleh ayahanda Sultan
Syarif Ali," pikirnya. Armada merapat ke Tebing Tanah Tinggi bertepatan
tanggal 07 April 1805 Masehi. Di usia masih 25 tahun itu, dengan
mengucap bismillah Panglima melejit ke darat yang tinggi sambil memberi
salam. "Alha-mdulillah tanah tinggi ini menjawab salam den," katanya.
Tanah diraupnya, terasa sejuk dan nyaman. Ia tancapkan keris di atas
tanah (lokasinya sekarang kira-kira dekat komplek kantor Bea Cukai
Selatpanjang ). Sambil berkata, "Dengarkanlah oleh kamu sekalian di
tanah Hutan Tebing Tinggi inilah yang amat baik didirikan sebuah negeri.
Negeri ini nantinya akan berkembang aman dan makmur apabila pemimpin
dan penduduknya adil dan bekerja keras serta menaati hukum-hukum
Allah."Panglima itu berdiri tegak dihadapan semua pembesar kerajaan,
laskar, hulu balang, dan bathin-bathin sekitar pulau. "Den bernama
Tengku Bagus Saiyid Thoha Panglima Besar Muda Siak Sri Indrapura. Keris
den ini bernama Petir Terbuka Tabir Alam Negeri. Yang den sosok ini den
namakan Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi."itulah nama asal
muasal kota selatpanjang.
Setelah menebas hutan, membuka wilayah kekuasaan, berdirilah istana
panglima besar itu. Pada 1810 Masehi Sultan Syarif Ali mengangkat
Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha itu sebagai penguasa
pulau. Kala itu, sebelah timur negeri berbatasan dengan Sungai Suir dan
sebelah barat berbatasan dengan Sungai Perumbi, seiring perkembangan
waktu bandar ini semakin ramai dan bertumbuh sebagai salah satu bandar
perniagaan di kesultanan siak.
Ramai interaksi perdagangan didaerah pesisir Riau inilah menyebabkan
pemerintahan Hindia Belanda ikut ambil dalam bagian penentuan nama
negeri ini. Sejarah tercatat pada masa Sultan Siak yang ke 11 yaitu
Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Pada tahun
1880, pemerintahan di Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi dikuasai oleh
J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi yang bergelar Tuan Temenggung
Marhum Buntut (Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak).
Pada masa pemerintahannya di bandar ini terjadilah polemik dengan pihak
Pemerintahan Kolonial Belanda yaitu Konteliur Van Huis mengenai
perubahan nama negeri ini, dalam sepihak pemerintahan kolonial Belanda
mengubah daerah ini menjadi Selatpanjang, namun tidak disetujui oleh
J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi selaku pemangku daerah.
Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama pada tanggal 4 September 1899,
Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi berubah menjadi Negeri Makmur Bandar
Tebingtinggi Selatpanjang.J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi
mangkat pada tahun 1908. Seiring waktu masa diawal Pemerintahan Republik
Indonesia, kota selatpanjang dan sekitarnya ini merupakan Wilayah
Kewedanan di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status
menjadi Kecamatan Tebingtinggi. Pada tanggal 19 Desember 2008, daerah
Selatpanjang dan sekitarnya ini berubah menjadi Kabupaten Kepulauan
Meranti memekarkan diri dari Kabupaten bengkalis dengan ibukota
Selatpanjang.[1]
Kota SelatPanjang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan
Meranti, dahulu merupakan salah satu bandar (kota) yang paling sibuk dan
terkenal perniagaan di dalam kesultanan Siak.Bandar ini sejak dahulu
telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa,
karena peran antar merekalah terbentuk erat dalam keharmonisan kegiatan
kultural maupun perdagangan. Semua ini tidak terlepas ketoleransian
antar persaudaraan. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan
dan lalu lintas barang barang maupun manusia dari China ke nusantara dan
sebaliknya.Selatpanjang juga merupakan kota yang menjadi transit
transportasi laut dari Pekanbaru menuju Pulau Batam atau Tanjung Balai
Karimun dan sebaliknya. selatpanjang juga merupakan kota penghasil sagu
yang cukup besar. Kabupaten Kepulauan Meranti adalah salah satu
kabupaten di provinsi Riau, Indonesia, dengan ibu kotanya adalah
Selatpanjang.
Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari Pulau Tebing Tinggi, Pulau
Padang, Pulau Merbau, Pulau Ransang, Pulau Topang, Pulau Manggung, Pulau
Panjang, Pulau Jadi, Pulau Setahun, Pulau Tiga, Pulau Baru, Pulau
Paning, Pulau Dedap,Pulau Berembang, Pulau Burung.Adapun nama Meranti
diambil dari nama gabungan "Pulau Merbau, Pulau Ransang dan Pulau
Tebingtinggi".[2]
Invested $100 in Cryptocurrencies in 2017...You would now have $524,215: https://goo.gl/efW8Ef
Invested $100 in Cryptocurrencies in 2017...You would now have $524,215: https://goo.gl/efW8Ef
terimakasih atas pemberitahuan nya tentang sejarah kota selatpanjang..
BalasHapustapi.. kalau saya boleh komen nya ya, tulisannya agak dikecilkan ya, supaya tidak sakit mata.
haha kalau tulisannya kecil mungin sakit matanya buk.tapi kalau tulisannya besar kan bisa lebih jelas.
BalasHapus